not only Storage, Datacenter & IT..

it's about technology, best practices and ideas.. even more..

Go Green Datacenter

Posted by Iwan Sulistyawan pada Juli 16, 2008

Listrik byar pet.. krisis listrik berdampak pada industri dan masyarakat.. Nggak tahu deh penyebab pasokan listrik koq bisa tidak memadai. Ada yang bilang karena maintenance perangkat di PLN. Ada lagi yang bilang karena pasokan bahan bakar dihambat terhambat. Atau jangan2 karena mau pemilu.. tahu kaan kenapa. Pemerintah pun menghimbau penghematan listrik dimana-mana. Beberapa perusahaan juga mencanangkan program hemat energi ini. Apapun penyebabnya, program hemat energi memang layak dilakukan. Bukan untuk siapa siapa melainkan buat kita sendiri juga manfaatnya.

So.. terkait sama hemat energi ini ada bebebapa yang bisa dilakukan oleh IT infrastructure. Beberapa idea pernah ada di tulisan saya tahun lalu. Server consolidation juga bisa jadi salah satu solusinya. Tapi yang sangat signifikan adalah redesign datacenter cooling system. Sebuah paradigma baru mengenai power cooling datacenter.

Dean Nelson, Direktur Global Lab & Datacenter Design Services-nya Sun Microsystem, pernah menjadikan project datacenter yang hemat energi dengan cara datacenter cooling system baru ini untuk mengejar efisiensi utilisasi power.  Seperti apa designnya??.. apa saja product yang dipakai??..

Artikel Dean Nelson tentang efisiensi listrik yang dipakai datacenter yang mereka design bisa dibaca di sini. Parameter efisiensi power diukur dengan terminologi PUE (Power Utilization Effectiveness). Pakem ini digunakan oleh banyak praktisi IT Datacenter.

Sebelum membahas bagaimana cara Dean mendesign datacenter yang hemat energi, sedikit kita ulas dulu tentang PUE ini.

PUE adalah nilai total power yang dipakai untuk seluruh equipment di datacenter dibandingkan dengan power yang digunakan untuk perangkat IT-nya.

PUE = (Total power datacenter) / (Power perangkat IT)

kalau nilai PUE = 2 artinya jumlah power yang digunakan untuk (misal untuk setiap 2 watt) 1 watt listriknya dipakai untuk computing (server, switch, storage, tape library) dan 1 watt listrik untuk keperluan pendukung datacenter lainnya seperti UPS, PAC, lampu, dll. Semakin efisien penggunaan listriknya semakin kecil nilai PUE-nya.

Secara teori nilai PUE bisa dari 1 sampai tidak terhingga. Tapi berdasarkan risetnya Lawrence Berkley National Labs, dari 22 datacenter range PUE-nya antara 1.3 sampai 3. Datacenter kita kira2 berapa nilai efisiensinya yaa?

Okelah.. PUE itu kan standar yang mereka sepakati untuk mengukur efisiensi power di datacenter. Sekarang kita beralih ke yang lebih penting dari sekedar angka PUE yaitu apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi power di datacenter. Sekarang kita tengok aja metode2 yang dipakai sama Dean Nelson. Kita pelajari, difilter, dimodifikasi sesuai kondisi dan diimplementasi dong.

Kalau membaca-baca secara sekilas dan melihat demo datacenternya, mereka memperbaiki cooling system di datacenter dengan memodifikasi konsep cooling konvensional. Metode yang digunakan adalah membuat flow udara dingin tersebar di rack2 yang membutuhkan dan menghindari tercampurnya udara dingin dan udara panas.

Berikut beberapa metode cooling datacenter yang digunakanan untuk ruang datacenter
1. Metode yang lama adalah room oriented cooling system. Prinsipnya adalah mendinginkan seluruh ruangan datacenter menggunakan CRAC/PAC yang disebar di pinggir-pinggir ruangan datacenter.

cara ini masih konvensional dan kurang efektif karena udara panas & udara dingin bercampur serta flow udara dingin yang dibutuhkan oleh perangkat kurang tepat. beberapa area bisa sangat dingin, beberapa area lainnya temperaturnya tinggi. Coba lihat gambar di atas, daerah yang perangkat sedikit lebih dingin dan daerah yang lebih padat perangkatnya lebih panas. Akibatnya udara yang hangat bisa kembali masuk ke dalam server. Udara hangat akibat bertemunya udara panas dan dingin juga berdampak pada meningkatnya proses kondensasi sehingga humiditynya jadi lebih lembab.

Metode room oriented ini lebih rumit jika ada keperluan penambahan kapasitas di posisi tertentu, analisa redudancynya juga lebih kompleks. jika salah perhitungan, apabila salah satu CRAC/PAC mati perangkat IT di ruang datacenter bisa overheat.

Secara budget, metode ini juga sering oversizing karena system performance sulit diprediksi dan tidak efektifnya penggunaan udara dingin yang keluar dari CRAC/PAC ke perangkat IT.

2. Cara lain yang sedikit lebih advance adalah row oriented cooling system dengan membuat jalur udara panas dan jalur udara dingin (hot aisle & cold aisle). udara dingin disalurkan di cold aisle (bagian depan rack server), kemudian dihisap oleh server untuk menurunkan heat di dalam server dan udara panasnya dibuang ke belakang rack server kemudian udara panas naik ke atas lalu di hisap oleh CRAK/PAC di tepi2 ruang datacenter.

Perlu diingat bahwa berdasarkan best practice, posisi CRAC/PAC semestinya berada pada jalur hot aisle agar udara panas yang naik bisa dihisap oleh CRAC/PAC tanpa bercampur dengan udara dingin dulu. Dengan cara ini lebih efisien karena udara yang dihisap server untuk mendinginkan suhu processor etc di dalam ruang server adalah udara dingin yang tidak tercampur udara panas.

penggunaan CRAC/PAC di setiap baris ini bisa dibilang modular karena bisa menggunakan CRAC/PAC yang kapasitasnya lebih kecil dan cukup untuk mendinginkan 2 baris rack server saja.

3. Metode datacenter cooling yang lain adalah rack oriented cooling system. Metode ini yang digunakan oleh Dean Nelson karena tingkat efisiensinya paling tinggi. CRAC/PAC tidak lagi disebar di sisi-sisi ruang datacenter tapi sudah disebar di barisan rack servernya. Ilustrasi di bawah ini saya ambil dari salah satu slide presentasi APC di website Altruent system. Jadi di dalam barisan rack-rack server ini di sisipkan cooling system yang mendinginkan udara panas di belakang server dan menghembuskan ke sisi depan server.

Pada APC system row oriented cooling system ini di enhance lagi dengan menutup jalur udara panas (hot contaiment aisle) agar tidak bercampur dengan jalur udara dingin. Semua udara panas di dalam hot contaiment ini akan didinginkan oleh CRAC yang ada di samping rack server.

Meskipun pada ilustrasi di atas server yang di gambarkan adalah blade server, namun di lapangan Dean Nelson mendapati bahwa blade server adalah high density system yang menghasilkan heat sangat tinggi. oleh karena itu Dean melengkapi row oriented cooling ini dengan mengkombinasikan beberapa product.

selain APC InfraStruXure in row RC dengan hot contaimentnya Dean juga menggunakan Liebert XDV cooling system.

In row RC meningkatkan efisiensi cooling power dengan menggunakan power untuk kipas sesuai kebutuhan. alat ini memiliki sensor panas sehingga bisa mendeteksi heat dan dapat menganalisa berapa kecepatan kipas yang dibutuhkan. Hot aisle contaiment membantu menjaga agar udara panas tidak tercampur dengan udara dingin sehingga proses cooling bisa dilakukan tepat sasaran.

Untuk rack-rack yang high density, Dean menggunakan liebert XDV Vertical Top Cooling Module yang diletakkan di atas rack APC InfraStruXure. Liebert XDV ini yang bekerja bersama chiller system untuk medistribusikan udara dingin ke depan rack server dan menghisap udara panas dari belakang rack server untuk diteruskan ke chiller system.

Beberapa cara lain dilakukan untuk membuat power efisiensi. Diantaranya adalah sparycool, Rittal Liquid Cooling Package rack maupun IBM Rear Door Heat eXchanger (khusus untuk IBM Enterprise Racks). Tapi alat ini menggunakan air sebagai media penyalur panas. Penggunaan air sebagai media penyalur panas yang bekerja ala radiator ini memiliki resiko kebocoran maupun kondensasi. Jadi saya rasa tidak perlu dibahas lebih lanjut.

Kembali ke pokok bahasan tentang hemat energi. Jadi, untuk bisa melakukan penghematan energi yang signifikan salah satunya adalah dengan merubah paradigma cooling system ini. Hal ini telah dibuktikan oleh team datacenter design SUN yang dikepalai Dean Nelson. Perubahan paradigma metode cooling ini bukan hanya milik IT infrastructure, tapi juga milik pengelola power dan CRAC/PAC datacenter. Dengan bekerja bersama-sama hal ini pasti bisa kita wujudkan.

17 Tanggapan to “Go Green Datacenter”

  1. Seira berkata

    Cool nih… artikelnya bagus banget n bermanfaat.
    Setuju banget nih issuei untuk Green Data Centernya siapa tahu bisa dijadikan solusi untuk mengatasi keterbatasan power di datacenter.

  2. Benny S Roestam berkata

    Betul, salah satu cara untuk Go Green DC memang memperbaiki cooling system, dan masih banyak cara lain yg harus diterapkan untuk ‘hemat energi’.

    mungkin yg gampang2nya aja tapi sangat efektif a.l :
    - matikan perangkat2 yg sudah bisa di-dismantle
    - “konsolidasi” baik di sisi penempatan aplikasi per server, space storage, optimalisasi penggunaan server2 yg lebih efisien power maupun heat spt teknologi blade server.

    dan masih banyak lagi .. ide2nya ..
    anyway .. thanks for the idea.. :D

  3. @Siera: Iya.. issue power memang merabah sampai ke datacenter juga, Ries..

    @Benny SR: Bener banget boss.. untuk datacenter yang sudah operation mustinya perangkat2 lawas harus segera di dismantle. Selain computing powernya lelet, maintenance costnya tinggi dan lebih rentan rusak. Dimigrasi/konsolidasi ke blade server bisa jadi solusi hemat energi.. untuk mengakomodasi OS versi lawasnya bisa pakai VMware untuk mengeliminir hardware incompatibilitynya.. :)
    Thx juga udah share idenya boss..

  4. Harjo berkata

    Sudah waktunya memang kita melek “ramah lingkungan”, tidak terlihat tetapi terasa jika Bandung sekarang tidak lagi sedingin kaya dulu …

  5. uwiuw berkata

    menghindari tercampurnya udara dingin dan udara panas…..mengapa sun harus melakukan ini yah ? sy belum mengerti soal ini…bisa tolong jelaskan mengapa hal itu perlu dilakukan ?

  6. Benny S Roestam berkata

    Info tambahan nih dari pengalaman AISO.net (Web Hosting company) bikin (bener2) ‘green’ data center di Riverside Country, California sono, Phil Nail, CTO nya bilang :

    “Just try to do everything you can to be green,” he says. “It’s not just the solar panels. It’s really a combination of everything–the panels, using energy wisely, cooling your data center, and running the appropriate equipment.”

    Singkatnya yg dia lakukan adalah :
    - bangun 2000 sqft datacenter baru di daerah gurun yg panas (mungkin biar murah)
    - pasang 125 solar panelnya ‘Solatube’ (seluas 1 acre seharga USD 100rb) untuk lampu siang hari, sementara kalau malam pake LED yg super energy efficient dari pada lampu TL yg ternyata mengandung racun Mercury di dlmnya (nggak environtmentally friendly gitulah)
    - Atapnya juga ditanami taneman beralaskan pupuk setebal 4-5 inchi sehingga bisa menghemat sp 50% pemakaian AC.
    - Dindingnya juga dilapisi kertas recycle cellulose yg bisa melindungi DC dari suhu yg ekstrem waktu musim panas agar tetep 68 drajat Fdg AC yg dipasok oleh Freus.com yg super efisien dan kalau musim dingin waktu suhunya 50 atau lbh rendah hanya pake kipas angin aja .. (hmm ..jgn berharap terjadi di Jkt hiks3x)
    - Nah untuk konsumsi power hardware, mrk melakukan overhaul dg bantuan Sirius partnernya IBM. Mereka mereplace 120 server X86-nya yg inefisien (utilisasinya cuma 4-8 %) running OS Linux dan Windows serta aplikasi Web, diganti dg 4 buah xSeries Model 346 Intel plus pakai VMWare dan 6 TB NetApp via SAN. Hasilnya konsumsi power bisa dihemat hinggal 60% dan mereka masih punya target hingga konsumsi power hanya 20% dari kebutuhan power sebelumnya !!!

    Intinya menurut saya siy, mengoptimalkan utilisasi dan penggunaan perangkat yg hemat energi. Untuk optimalkan utilisasi bisa dilakukan dg Virtualisasi spt kata Neil :

    Count Nail as a convert to the power of virtualization to help the environment. “Why run a physical machine with when you can virtualize it?” Nail asks. Virtualization has also boosted AISO.net’s redundancy. “If one of the front-end machines physically died, VMware will just migrate it across one of the other machines and pull it up automatically,” he says.

    Nah .. kayaknya masih banyak yg bisa kita lakukan untuk Go Green Datacenter di tempat kita di Indonesia ini ..
    Secara kita semua masih belum/kurang sadar akan konsumsi listrik, apalagi PLN dah ngos2an gak punya pembangkit baru, mungkin krn kebanyakan dikorup .. (hmm homeworknya KPK nih)..

    So, apalagi yg kita tunggu ?? Lets go GREEN …
    BSR.

  7. @Harjo : Bener mas..
    Jakarta juga sekarang puanaaas banget.

    @uwiuw: Mas Aulia.. teknik yang dilakukan tsb untuk meningkatkan efisiensi saat mendinginkan processor. Tentunya suhu udara yang masuk ke box server kalau lebih dingin akan lebih efektif menurunkan suhu processor daripada kalau udara yang masuk sudah lebih hangat (karena tercampur udara panas).

    @Benny SR: Luar biasa.. Salut buat boss gw nih.. :)
    Thx for sharing, boss..

  8. Prayogo berkata

    Siip.. + minta tolong nih ada yang punya perhitungan untuk maasalah cooling data centre enggak ya.. kebutuhan BTU.. ukuran panas perangkat dll.. makasih ya..

  9. @prayogo : Coba kontak pak Firman dari MGEups di m.firman[at]mgeups.oc.di (pls replace oc.di dgn co.id).. mungkin beliau bisa bantu.

  10. Suryana berkata

    Langkah pertama untuk penghematan energi mungkin bisa dimulai dengan yg mudah yaitu mematikan seluruh lampu Ruang Data Centre (atau Ruang2 perangkat) bila tidak ada orang didalamnya (paling mudah tapi sulit membiasakannya). karena cahaya lampu itu juga menyumbang panas pada ruang2 tsb

  11. Cendana berkata

    Pak Prayogo;
    mungkin bisa didapatkan dari whitepaper berikut ini
    Semoga membantu.

    Pak Iwan;
    Blognya oke banget ni Pak.. emang menghemat energi perlu dilakukan sekarang, dimulai dari kita.. semoga bukan hanya sekedar wacana ataupun sekedar krn lagi “tren” hehe

    Salam;

    Cendana Arum

  12. Cendana berkata

    wah ga tertampil y urlnya.. mungkin bisa di search dengan key word: “Calculating total cooling requirement for data center”

  13. @suryana: Setuju banget, pak.. seperti slogan hemat energinya PLN matikan yang tidak perlu..

    @cendana: ini mbak cendana arum dari BMP bukan??.. Thx for joining, mbak.. terimakasih juga buat informasinya..
    btw, linknya di atas sudah aku benerin.

  14. yunardi berkata

    Hehehe telat baca telat komen…

    Kenapa “green data center” lebih dititik beratkan kepada cooling system ? pasti karena termasuk “most consume power” di ruang DC adalah untuk cooling system… kenapa perlu cooling system yang yang besar… karena sumber panasnya (beban ruangan) juga banyak (server/storage/penerangan/monitor). Sesuai hukum termodinamika, panas yang dihasilkan sebanding dengan daya yang didisipasikan perangkat-perangkat tersebut.

    kalau memang re-design layout perangkat DC masih sulit dilakukan mungkin untuk awalnya dengan menumbuhkan kebiasaan hemat energi, misalnya mematikan lampu dan monitor di ruang server kalau tidak diperlukan, bahkan server-server yang sudah tidak jelas peruntukannya harus dimatikan dan aplikasinya dikonsolidasikan kedalam satu server dengan storage yg mencukupi (tidak perlu pertimbangan performance).

    Kemudian perlu dipertimbangkan juga membeli perangkat baru yang lebih hemat energy. Sebagai perbandingan untuk satu server HP RP7410 saja untuk max. config butuh power sekitar 5000VA, sementara versi terbarunya RX7420 dengan performance yang lebih baik tentunya, cuma butuh power max. sekitar 2171 VA, lebih rendah 1/2 nya. Memang kalau dilihat harga pembelian mesin baru cukup mahal, tapi mulai sekarang sepertinya pertimbangan penghematan power bisa diusulkan dalam rencana pembelian. Coba penghematan 2500VA dihitung dalam setahun, 2th, 3th dan seterusnya akan menghemat biaya power berapa, belum lagi beban ruangan yang berkurang akan menurunkan cost cooling system.
    CMIIW, ini sekedar berdasarkan pengalaman sebagai engineer server dan electrical enginer sebelumnya.

    Btw, sayangnya sepertinya belum ada audit ruang data center sehingga kita bisa mendapatkan PUE dari ruang DC kita.

    Thanks,

  15. @Yunardi eko: telat baca telat komen sih masih gpp.. kalau telat datang bulan baru bedaaa.. :) ))
    sekali lagi setuju sama simple idea seperti ini.. pertanyaan simple berikutnya adalah: Kenapa kita nggak lakukan dari sekarang yaa?? :) )

  16. Ido Aziz berkata

    Pak Iwan,
    Ini kunjungan saya ke 2 (dua) kali ke tulisan2 bpk.
    Saya tertarik dengan isue green datacenter, digagas dong bikin seminar level nasional untuk mengupas dan mendalami knowledge tentang meng efisien kan power consumption di DC (atau mungkin pernah diselenggarakan tapi saya tdk sempat hadir.

    Terus buat panduan susun road map implementasinya, kalau tidak mulai sekarang “kapan lagi?”

  17. Thx pak Aziz..
    soal seminar sih bisa2 aja kalau ada yang mau sponsori.. :)

    mengenai roadmap implementasi saya rasa harus dimulai dengan setting target akhir yang mau dicapai. kalau kata steven covey start with the end. (hehe.. nggaya..) berikutnya setting tahapan dari basic requirement & prioritize yg manfaat paling besar dan dampaknya paling kecil.. roadmap bisa dibagi-bagi berdasarkan ketersediaan resource (waktu, tenaga dan biaya) setelah hal2 sebelumnya terdefinisi.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.